Spektrum Id New York, 6 Agustus 2025 — Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) kembali menggelar pertemuan darurat untuk membahas situasi penyanderaan yang masih berlangsung di Gaza, yang hingga hari ini telah memasuki hari ke-668 sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Pertemuan itu dihadiri oleh perwakilan tetap negara-negara anggota, pejabat tinggi PBB, dan Menteri Luar Negeri Israel, serta perwakilan keluarga para sandera.
Dalam pernyataannya, perwakilan Amerika Serikat menyampaikan dukungan penuh kepada Israel dan menyerukan tekanan maksimal terhadap kelompok Hamas untuk segera membebaskan sekitar 50 sandera yang masih ditawan.
"Kepedihan dan duka yang dihadapi para keluarga sandera sungguh tak terkira. Amerika Serikat berdiri bersama mereka dan akan terus berupaya membebaskan semua sandera yang tersisa, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal," ujar perwakilan AS.
Ia menyoroti video-video yang beredar mengenai kondisi sandera—termasuk Evyatar, David, dan Rom Braslewski—yang disebut memperlihatkan penderitaan mendalam, penyiksaan, dan kelaparan akibat perlakuan dari Hamas dan Jihad Islam Palestina.
Perwakilan AS menggambarkan kondisi mengenaskan Rom Braslewski, seorang pemuda berusia 21 tahun yang diculik dari Festival Musik Nova, yang digambarkan sebagai “kerangka hidup” dan disebut dipaksa menggali kuburnya sendiri oleh para penculik.
AS menekankan bahwa pembebasan para sandera merupakan prioritas utama bersamaan dengan pelucutan senjata Hamas dan penghapusan kekuasaan kelompok itu di Gaza. Utusan Khusus Steve Whitcoff dan Menteri Rubio, bersama Presiden Trump, disebut terus bekerja tanpa henti untuk menyelesaikan konflik dan membebaskan dua warga negara AS, Itay Chen dan Omer Nutra, yang masih disandera.
"Seperti yang dikatakan Presiden Trump pekan lalu, cara tercepat untuk mengakhiri krisis kemanusiaan di Gaza adalah Hamas menyerah dan membebaskan para sandera. Namun, Hamas terus menolak semua proposal, bahkan ketika Israel telah menyatakan kesediaan untuk menerima perjanjian gencatan senjata," tegasnya.
Perwakilan AS juga mengkritik sejumlah inisiatif internasional, termasuk Konferensi Solusi Dua Negara dan pengakuan sepihak negara Palestina, yang disebut dapat memperpanjang konflik dan memperlemah posisi negosiator.
Dalam aspek kemanusiaan, Amerika Serikat menekankan komitmennya terhadap distribusi bantuan kemanusiaan yang aman dan tidak dimanfaatkan oleh Hamas. AS memuji capaian Gaza Humanitarian Foundation (GHF), yang telah mengirimkan lebih dari 100 juta makanan, termasuk 1,5 juta makanan dalam satu hari pada Minggu lalu.
"Kami menyadari langkah-langkah penting yang telah diambil Israel untuk memfasilitasi peningkatan aliran bantuan ke Gaza. Semua pihak yang peduli terhadap krisis kemanusiaan harus mendukung upaya GHF dan bukan memperkuat posisi Hamas," ujarnya.
Menanggapi tuduhan genosida terhadap Israel, AS dengan tegas membantah dan menyebutnya sebagai tuduhan bermotif politik yang merupakan bagian dari kampanye propaganda Hamas.
"Amerika Serikat sepenuhnya mendukung hak Israel untuk membela diri terhadap terorisme Hamas. Israel telah melakukan berbagai upaya untuk membatasi korban sipil dan mengatasi masalah kemanusiaan," katanya menutup pernyataan.
Pertemuan DK PBB ini mencerminkan ketegangan yang terus meningkat di tengah upaya internasional untuk mengakhiri konflik di Gaza. Namun hingga kini, belum ada titik temu antara tuntutan gencatan senjata dan pembebasan sandera. Situasi di lapangan pun masih memprihatinkan, dengan kondisi kemanusiaan yang memburuk dan jalan keluar politik yang tampak buntu.
.gif)