Spektrum id, Zurich- FIFA mencapai kesepakatan dengan serikat pemain sepak bola dunia terkait perlindungan kesejahteraan pemain, khususnya soal waktu istirahat wajib di tengah padatnya kalender kompetisi global.
Dalam pernyataannya FIFA menegaskan, bahwa terjadi konsensus soal pemberlakuan jeda minimal 72 jam antarpertandingan serta masa libur setidaknya tiga pekan di akhir musim kompetisi.
Langkah ini diambil sebagai respons atas kekhawatiran yang kian meningkat terkait kelelahan fisik dan mental pemain profesional.
Keputusan FIFA menggelar Piala Dunia Antarklub edisi perdana dengan format 32 tim pada musim panas 2025 ini, bersamaan dengan masa rehat sebagian besar pemain Eropa salah satu jadi penyebab.
Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan antara Presiden FIFA, Gianni Infantino dan sejumlah perwakilan senior dari serikat pemain dunia, termasuk FIFPRO yang digelar di New York, Sabtu (12-7-2025) waktu setempat.
Pertemuan ini membahas isu-isu penting terkait kesehatan pemain (baik pria maupun wanita), yang menjadi prioritas utama karena masuk kerangka pencegahan risiko kerja sebagaimana ditetapkan oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).
Sebelumnya pada Juni 2024, FIFPRO bersama serikat pemain Inggris dan Prancis telah melayangkan gugatan terhadap FIFA ke Uni Eropa. Mereka menuduh FIFA menyalahgunakan dominasinya dan melanggar hukum persaingan Eropa melalui ekspansi kalender pertandingan yang padat.
Menanggapi itu, FIFA kini membuka pintu lebih lebar kepada serikat pemain untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan.
Dengan mempertimbangkan keikutsertaan perwakilan serikat pemain dalam rapat Dewan FIFA jika menyangkut isu-isu yang berdampak langsung pada pemain.
Aturan Baru
FIFA dan serikat pemain sepakat bahwa setiap pemain harus memiliki waktu istirahat minimal 72 jam antara satu pertandingan dan pertandingan lainnya. Selain itu, libur akhir musim selama 21 hari akan diberlakukan sebagai bagian dari pemulihan dan keseimbangan fisik pemain.
Periode tersebut akan dikelola oleh klub dan pemain masing-masing dengan mempertimbangkan kalender pertandingan serta perjanjian kolektif yang berlaku di tiap wilayah atau negara.
FIFA juga menyarankan adanya satu hari libur tiap pekan yang pengaturannya tetap fleksibel.
FIFA juga menyampaikan pentingnya memperhatikan faktor lain, seperti perjalanan antarbenua dan kondisi cuaca ekstrem saat menyusun kebijakan di kalender pertandingan internasional yang akan datang (International Match Calendar/IMC)
.gif)
