Notification

×

Iklan


 

Iklan

Indeks Berita

Gantikan Dr Chaidir di FKPMR: "Mambang Mit Harus Komit"

Monday, 12 January 2026 | January 12, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-12T14:14:16Z


Catatan;  H Dheni Kurnia*

AKHIRNYA H Raja Mambang Mit terpilih sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR), menggantikan Dr Chaidir yang meninggal dunia beberapa waktu lalu. Ini adalah pergantian antar waktu masa bakti 2025-2030, yang dilaksanakan Senin (12/1/26) di Balai Dang Merdu Pekanbaru.

Tapi meski hanya pengganti antar waktu, pemilihan itu cukup alot dan seru. Lebih serius ketimbang menyaksikan final piala dunia sepakbola. Bedanya hanya penonton saja. Jika final sepakbola disaksikan jutaan orang, pergantian Mambang hanya disetujui puluhan orang saja.

Wajar juga jika Mambang yang menang. Seperti wajarnya Argentina jadi juara dunia sepakbola. Argentina memang hebat dan bermain cantik serta indah. Mambang Mit, permainannya walau biasa saja, tapi membuat banyak anggota FKPMR memilihnya. Mambang termasuk hebat, karena persentasi yang disampaikan, memukau pemuka masyarakat yang memilih.

Siapa masyarakat Riau yang tak kenal Mambang Mit. Pernah menjadi Sekretaris Daerah Riau, Wakil Gubernur dan Ketua Partai. Yang tak kenal (mungkin) bukan orang Riau atau datang sekali-sekali ke Riau. Karena itu, wajar juga jika dia dipercaya menjadi Ketua FKPMR, oganisasi besar yang memperjuangkan hak-hak warga Riau.

Kembali kepada keseruan pemilihan, karena yang maju menjadi ketua, bukan pula hanya lawan-lawan yang tak dikenal di Riau. Mereka adalah tokoh-tokoh luar biasa, yang punya nama tak kalah mentereng. Di antaranya; Edi Natar Nasution, mantan Wakil Gubernur dan Gubernur Riau. Pernah juga menjadi Komandan Korem Wirabima, berpangkat Brigadir Jenderal. Kemudian Prof Tengku Dahril, Guru Besar Senior Universitas Riau. Ada pula Syamsurizal, mantan Bupati dan Anggota DPRRI. Yang terakhir adalah Hajjah Azlaini Agus, Tokoh Petempuan Riau yang sangat menasional namanya.

Dari nama-nama itu, semua ingin menggantikan peran Dr Chaidir. Makanya dalam perembukan awal, tak ada kata  putus dan tidak ada yang duduk. Prof Tengku Dahril, malah mengundurkan diri karena ketatnya perembukan. Sebab itulah, diputuskan pemilihan. Dalam pemilihan ini, Mambang Mit yang keluar sebagai juara. Mambang memperoleh 27 suara, Azlaini Agus 15 suara, Edi Natar 14 suara dan Syamsurizal kebagian 4 suara.

Usai pemilihan, Mambang langsung menerima bendera kebesaran FKPMR yang diserahkan H Saleh Djasit sebagai pemimpin sidang. Saleh yang mantan tentara berpangkat Brigadir Jenderal dan mantan Gubernur ini, tampak tertawa sumringah. Mungkin karena Mambang yang menang atau karena panasnya pemilihan. Tak tahulah apa penyebabnya. Yang pasti dia tampak puas dan tersenyum renyah. Begitu pula Wan Thamrin Hasyim yang mendampingi Saleh Djasit. Mantan gubernur Riau ini tertawa lepas atas terpilihnya Mambang Mit.


Lalu apa yang akan dikerjakan Mambang Mit? Jelas saja kerja yang sudah digarap Chaidir (Alm) menjadi tanggung jawab besar yang harus dilaksanakan. Chaidir antara lain, ingin masyarakat Riau  lebih maju, memperteguh adat kebudayaan, mandiri, lepas dari cengkeraman siapapun dan ingin perekonomian rakyat membaik. Mambang pun harus melakukan itu, kalau bisa berlebih dari apa yang digagas Dr Chaidir.

Mambang harus mampu berlebih dari pejabat sebelumnya, karena FKPMR adalah  tambang yang  kuat  untuk mempersatukan beragam pandangan dan kepentingan. Dalam kebudayaan Melayu, amanah dan keadilan mempunyai kepercayaan yang harus dilaksanakan. Mambang mesti berpegang pada asas adat dan mufakat, meski perbedaan pandangan di kalangan orang Melayu masih berlaku.

Karena itu, Mambang sebagai  Ketua Umum terpilih, wajib merawat kesatuan, menguatkan peranan organisasi sebagai penjaga marwah serta memastikan adat dan kebudayaan tidak hanya untuk disebut-sebut. Kalau perlu Mambang, bisa bekerjasama dengan Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, yang sebelumnya juga dilibatkan Almarhum Chaidir.

#Harus Komit#

Mambang Mit juga harus komit dengan terpilihnya sebagai ketua. Komit bukan sekadar basa-basi atau hanya sekadar disebut sebagai ketua saja. Komit dari bahasa Inggris "commit" artinya; melakukan, menyerahkan, atau mengikatkan diri pada suatu pilihan, tindakan, janji dengan sikap tanggungjawab.

Menurut HA Aris Abeba, seniman dan budayawan Riau yang se daerah dengan Mambang, komit atau komitmen di sini, bagaimana Mambang membuat janji kuat untuk setia dan bertanggung jawab pada seseorang serta organisasi yang dipimpinnya. "Dia wajib mengabdikan diri, mengalokasikan waktu, sumber daya, fikiran, atau dedikasi untuk masyarakat," kata Aris.

Aris menambahkan, jika Mambang Mit  komit dengan pilihan itu, dia yakin FKPMR ke depan akan makin maju dan bermarwah lebih dari sebelum-sebelumnya. "Dan sesungguhnya itu yang kita harapkan dari Pak Mambang,"  tegasnya.

#Harus Bersinergi Erat#

Sebelumnya Tokoh Riau, Dr Zulkarnain Kadir Abbas menyebut, FKPMR merupakan organisasi kemasyarakatan strategis yang dibentuk untuk mewadahi aspirasi masyarakat Riau, khususnya dalam memperjuangkan kepentingan daerah di bidang politik, ekonomi, dan sosial, baik di tingkat nasional maupun internasional. FKPMR juga menjadi tempat berhimpunnya tokoh-tokoh dan pemuka masyarakat Riau yang memiliki legitimasi moral dan rekam jejak dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

Sebab itu, katanya, FKPMR di bawah Mambang Mit, harus menekankan pentingnya sinergi dan komunikasi yang erat antara organisasinya dengan Lembaga Adat Melayu (LAM)  dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Riau. Ketiga organisasi ini harus bersatu dalam menyuarakan kepentingan masyarakat sesuai dengan peran masing-masing.

"FKPMR berfokus pada kepentingan politik, ekonomi, dan sosial; LAM menangani persoalan adat, budaya, hukum adat, dan ulayat; sementara MUI berperan dalam pembinaan keagamaan dan pemberian fatwa, tanpa terlibat dalam politik praktis. Jika tiga kekuatan organisasi ini bersatu, maka pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, memiliki kewajiban moral untuk mendukungnya demi kemajuan masyarakat Riau,” ujarnya.

Zul Kadir menambahkan, Mambang Mit sebagai pengganti almarhum Dr.Chaidir, bukan sekadar pergantian figur. Tapi dia harus lebih mampu berbuat. Keduanya sama-sama dikenal tenang dan dari latar yang berbeda, Chaidir politisi, Mambang Mit birokrat. Almarhum Chaidir memberi warna FKPMR dengan naluri politik yang kuat, kemampuan membaca momentum serta keberanian bersuara di ruang publik.

Tapi  Mambang Mit hadir dengan karakter lain. Sebagai birokrat, ia dikenal lebih administratif, sistematis, dan berhitung panjang. Pendekatannya cenderung sejuk, mengedepankan tata kelola, konsolidasi internal, dan stabilitas organisasi. Bukan tipe pemimpin yang reaktif, tetapi bekerja dalam senyap.

"Jadi perbedaan latar ini bukan kelemahan, justru peluang. FKPMR tidak selalu membutuhkan suara keras, tetapi membutuhkan kepemimpinan yang mampu merapikan barisan, menata program, dan menjaga marwah organisasi di tengah situasi Riau yang kompleks defisit anggaran, krisis kepercayaan publik, dan dinamika politik yang belum reda," tegas Zul Kadir. *


* Dheni Kurnia adalah Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Riau dan Pemimpin Redaksi Harian Vokal serta Media Online SpektrumID.com

×
Berita Terbaru Update
Do you have any doubts? chat with us on WhatsApp
Hello, How can I help you? ...
Click me to start the chat...