Spektrum.id | Jakarta – 15 Oktober 2025 etegangan geopolitik yang melibatkan China dan negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat (AS), telah mempengaruhi industri semikonduktor global, dengan dampak yang jauh melampaui dunia teknologi. Persaingan ini semakin memanas dengan ambisi China untuk menjadi pemimpin global dalam produksi chip, yang memicu reaksi keras dari negara-negara Barat.
China Memperkuat Posisi dalam Industri Chip
China terus berusaha untuk memperkuat posisi dominannya dalam industri semikonduktor dengan mengurangi ketergantungan pada teknologi dan bahan baku dari negara-negara Barat. Salah satu langkah penting adalah upaya untuk memproduksi chip 5nm dengan teknologi litografi Deep Ultraviolet (DUV) tanpa bergantung pada mesin litografi ekstrem ultraviolet (EUV) buatan AS. Perusahaan semikonduktor China, seperti SMIC (Semiconductor Manufacturing International Corporation), telah membuat kemajuan signifikan dalam produksi chip canggih ini.
Selain itu, China juga fokus pada penguasaan bahan baku penting, seperti polisilicon, yang digunakan dalam pembuatan chip. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat rantai pasokan domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor dari negara-negara Barat.
Tantangan bagi Negara-Barat
Namun, ambisi China ini tidak berjalan mulus. Negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, menganggap ini sebagai ancaman terhadap dominasi mereka dalam industri semikonduktor. AS telah mengambil langkah-langkah keras untuk membatasi akses China terhadap teknologi canggih dan bahan baku yang diperlukan untuk produksi chip. Pemerintah Belanda, misalnya, baru-baru ini mengambil alih kontrol perusahaan pembuat chip Nexperia, yang dimiliki oleh perusahaan China Wingtech, setelah tekanan dari AS terkait kekhawatiran atas masalah keamanan nasional.
AS juga semakin memperketat ekspor teknologi dan peralatan canggih yang digunakan untuk memproduksi chip. Langkah ini berpotensi memperlambat upaya China untuk mencapai kemandirian dalam teknologi semikonduktor, yang sangat penting bagi ambisi mereka untuk menjadi pemimpin dalam kecerdasan buatan (AI) dan teknologi lainnya.
Kontrol Ekspor Langka dari China
Tidak hanya merespons tekanan dari Barat, China juga mengambil langkah balasan dengan memberlakukan pembatasan ekspor terhadap bahan-bahan langka yang penting untuk produksi chip, seperti unsur tanah jarang. Bahan-bahan ini digunakan dalam pembuatan chip dan teknologi pertahanan, yang menjadikannya sebagai senjata strategis dalam persaingan global. Pembatasan ini dapat memengaruhi rantai pasokan global dan meningkatkan ketegangan perdagangan dengan negara-negara Barat.
Prospek Masa Depan: Ketidakpastian dalam Industri
Ketidakpastian global semakin mendalam ketika membahas masa depan industri chip. Di satu sisi, China berupaya untuk mempercepat produksi chip domestik dengan target besar untuk memproduksi chip 5nm secara massal pada tahun 2026. Namun, tantangan besar tetap ada, seperti kebutuhan akan bahan baku berkualitas tinggi, akses ke teknologi litografi canggih, dan pasar global yang semakin ketat.
Di sisi lain, negara-negara Barat, terutama AS, terus memperkuat upaya mereka untuk mengurangi ketergantungan pada China dalam pasokan chip. Dengan investasi besar dalam produksi domestik dan upaya diversifikasi pasokan, negara-negara ini berusaha untuk menciptakan jalur pasokan yang lebih aman dan terkontrol.
Ketegangan geopolitik ini akan terus menjadi salah satu faktor penentu dalam dinamika industri semikonduktor global, dengan dampak yang tidak hanya terasa di sektor teknologi, tetapi juga dalam hubungan diplomatik dan ekonomi antara negara-negara besar.(Fe)
Source: reuters
.gif)