Paris, Prancis – Ibukota Prancis berubah menjadi lautan manusia dan barikade pada pertengahan September 2025. Aksi bertajuk “Block Everything” bukan sekadar unjuk rasa biasa, tetapi sebuah peringatan keras kepada pemerintah: rakyat merasa terdesak di tengah biaya hidup yang meroket, kebijakan penghematan, dan ketidakpastian politik.
Di jalanan Paris, aroma gas air mata bercampur dengan asap ban terbakar. Di balik masker dan kacamata renang, ribuan wajah muda dan tua saling bergandengan. Spanduk buatan tangan bertuliskan “Hentikan Pemotongan Anggaran” berkibar di antara gedung-gedung tua kota mode dunia itu.
Wajah Baru Perlawanan
Tidak seperti aksi-aksi sebelumnya, demo kali ini menunjukkan wajah solidaritas yang berbeda. Para mahasiswa berbaris bersama sopir bus, perawat, pekerja konstruksi, bahkan orang tua yang membawa anak mereka. Mereka tidak hanya menolak pemotongan anggaran, tetapi juga menuntut hak-hak dasar: perumahan terjangkau, pendidikan yang layak, dan jaminan kesehatan universal.
“Ini bukan sekadar soal anggaran, ini soal masa depan anak-anak kami,” ujar seorang perawat di depan Hôtel de Ville sambil memegang poster bergambar boneka bayi.
Paris Lumpuh, Tapi Suaranya Menggema
Transportasi umum di Paris lumpuh total. Stasiun metro ditutup, jalan-jalan utama berubah menjadi arena protes, dan pusat kota seperti Champs-Élysées menjadi panggung tuntutan publik. Namun di balik kekacauan itu, ada semangat kebersamaan yang terasa: musik, orasi, dan bahkan seniman jalanan mengisi suasana protes dengan kreativitas.
Video-video amatir menunjukkan para pengunjuk rasa membantu orang lanjut usia melewati barikade atau membagikan makanan gratis kepada demonstran dan pejalan kaki. “Kami ingin menunjukkan bahwa kemarahan bisa disampaikan dengan solidaritas,” kata seorang mahasiswa seni.
Pemerintah Dipojokkan
Pemerintah Prancis berada dalam tekanan. Kebijakan penghematan yang dimaksudkan untuk menyelamatkan anggaran negara kini justru memperburuk krisis kepercayaan. Popularitas Perdana Menteri baru yang diharapkan menjadi angin segar justru merosot di tengah badai kritik.
Para pengamat politik menyebut bahwa aksi Block Everything mencerminkan hilangnya sabar rakyat. “Ada generasi baru yang tidak percaya lagi pada janji politik,” ujar Dr. Léa Fontaine, analis politik Université Sorbonne. “Mereka menggunakan kreativitas untuk memobilisasi massa, dan ini bisa menjadi gerakan sosial terbesar sejak aksi rompi kuning 2018.”
Lebih dari Sekadar Demo
Gerakan ini bukan hanya reaksi spontan terhadap kenaikan harga dan pemangkasan subsidi. Di baliknya ada perasaan ketidakadilan struktural yang menumpuk selama bertahun-tahun. Kehidupan di kota-kota besar Prancis semakin mahal, sementara upah stagnan. Para buruh dan mahasiswa yang dulunya terpisah kini bersatu dalam satu suara: menuntut keadilan sosial.
Meski bentrokan pecah di beberapa titik, sebagian besar aksi berlangsung damai. Para aktivis mengklaim akan terus turun ke jalan hingga pemerintah membuka ruang dialog nyata.
Masa Depan yang Tak Pasti
Paris kini berada di persimpangan sejarah. Apakah pemerintah akan mendengarkan suara rakyat, atau terus memaksakan kebijakan penghematan yang memicu kemarahan?
Di malam hari, meski polisi memperketat pengawasan, ribuan lilin dinyalakan di Place de la République, membentuk tulisan besar: “AVENIR” – masa depan. Simbol itu menjadi harapan bahwa Prancis bisa keluar dari krisis tanpa harus mengorbankan martabat rakyatnya.
Source : AP
.gif)