-->

Notification

×

Iklan


 

Iklan

Indeks Berita

Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri 2025 Resmi Dibuka di Bandung: 2.200 Ilmuwan Berkumpul untuk Akselerasi Kemajuan Bangsa

Thursday, 7 August 2025 | August 07, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-08-07T03:43:53Z



Spektrum Id  Bandung, 7 Agustus 2025 — Kota Bandung menjadi saksi sejarah pelaksanaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025, sebuah ajang strategis yang untuk pertama kalinya mempertemukan lebih dari 2.200 ilmuwan, akademisi, pelaku industri, dan pembuat kebijakan dari seluruh Indonesia serta diaspora luar negeri.

Dalam pidato pembukaannya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, menyampaikan bahwa konvensi ini merupakan inisiatif langsung Presiden RI Prabowo Subianto, yang ingin menjadikan sains dan teknologi sebagai pilar utama kemajuan nasional.

“Konvensi ini adalah momentum besar yang mempertemukan para peneliti dan guru besar bidang STEM dari seluruh Indonesia untuk menyamakan visi membangun bangsa. Ini pertama kali dilakukan dalam sejarah kita,” ungkap Brian Yuliarto di hadapan Presiden Prabowo dan para tamu undangan.

Konvensi yang juga menjadi bagian dari peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (10 Agustus) ini akan berlangsung selama tiga hari. Dalam laporannya, Brian Yuliarto memaparkan bahwa peserta konvensi terdiri dari:

  • 1.066 peneliti unggul STEM dengan kriteria high index

  • 401 rektor dan wakil rektor dari PTN/PTS se-Indonesia

  • 351 dosen STEM dari wilayah Jawa Barat dan Jakarta

  • 26 diaspora ilmuwan Indonesia dari luar negeri

  • 171 mahasiswa doktoral bidang STEM

  • 150 guru besar ITB dan senat

  • 250 perwakilan dari 18 kementerian/lembaga

  • 15 BUMN dan 54 pelaku industri yang bersinergi dengan perguruan tinggi

KSTI: Menyatukan Ilmu, Kebijakan, dan Industri


Menteri Brian menyampaikan bahwa selain sebagai forum ilmiah, konvensi ini memiliki misi strategis nasional: menyusun peta jalan riset dan inovasi teknologi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan merata. Ratusan hasil riset unggulan dari kampus-kampus juga dipamerkan dan langsung disinergikan dengan pelaku industri dan pembuat kebijakan.

“Ini bukan hanya pertemuan ilmiah, tetapi juga forum kebijakan. Kita ingin sains menjadi dasar pengambilan keputusan negara dan mendorong kemakmuran rakyat melalui inovasi nyata,” jelasnya.

Salah satu tujuan utama konvensi ini adalah memperkuat kedaulatan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar Indonesia mampu mengelola sumber daya strategis untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, sesuai dengan amanat konstitusi.

Presiden Prabowo Hadiri dan Beri Keynote Speech

Dalam suasana penuh antusiasme, Brian juga mencatat bahwa Presiden Prabowo Subianto menjadi Presiden Indonesia kedua setelah Presiden Soekarno yang secara langsung mengunjungi kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), tempat penyelenggaraan konvensi ini.

“Kehadiran Bapak Presiden adalah simbol pentingnya sains dan teknologi bagi masa depan Indonesia,” ujarnya.

Konvensi dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Kementerian Investasi dan Hilirisasi dengan Himpunan Kawasan Industri Indonesia sebagai bentuk sinergi konkret lintas sektor.

Penutup: Arah Baru Ilmu dan Teknologi Indonesia

Konvensi ini menjadi awal langkah besar Indonesia untuk menempatkan sains dan teknologi di pusat arah pembangunan nasional. Melalui kolaborasi lintas sektor, dari kampus hingga industri, dari laboratorium hingga ruang rapat kebijakan, Indonesia bergerak menuju masa depan berbasis inovasi dan kemandirian teknologi.

“Ini kesempatan besar bagi kita semua untuk melahirkan SDM unggul, jujur, dan berintegritas, yang siap membawa Indonesia menjadi bangsa besar dalam percaturan global,” tutup Menteri Brian Yuliarto.

×
Berita Terbaru Update
Do you have any doubts? chat with us on WhatsApp
Hello, How can I help you? ...
Click me to start the chat...