Dalam sambutannya, Veronica menekankan bahwa kunjungannya ke Jember bukan hanya untuk menghadiri festival budaya, namun juga meninjau langsung kondisi di lapangan bersama Wakil Menteri Koperasi dan UKM, Hefi Moreza.
“Sebelum ke Festival Egrang, kami diajak Pak Bupati ke rumah sakit. Saya pribadi sangat mengapresiasi langkah cepat Pak Bupati dalam memperbaiki sistem kesehatan darurat untuk ibu dan anak,” ujarnya.
Veronica menyebut sistem pelayanan yang sebelumnya mengandalkan reimbursement BPJS kini telah berubah menjadi sistem langsung, sehingga pasien dapat segera mendapatkan pertolongan tanpa hambatan administratif.
“Ini baru lima bulan menjabat, tapi sudah melakukan langkah konkret. Saya kira ini patut dicontoh,” puji Veronica.
Ia juga mengangkat isu krusial terkait dampak digitalisasi terhadap anak-anak pasca pandemi. Menurutnya, gadget bukan musuh, tapi tanpa pendampingan moral yang kuat dari keluarga, sekolah, dan komunitas, anak-anak rentan terhadap pengaruh negatif.
“Kita dulu punya tiga guru: guru BP di sekolah, orang tua di rumah, dan ensiklopedia. Sekarang anak-anak kita berdebat dengan Google. Siapapun bisa jadi ‘guru’ mereka lewat algoritma,” tegasnya.
Veronica menekankan pentingnya komunitas sebagai garda terdepan dalam melindungi anak. Ia melihat Festival Egrang sebagai contoh nyata bahwa budaya bisa menjadi ruang pemberdayaan, edukasi, bahkan ekonomi lokal.
“Bambu, sebagai ikon festival ini, tidak hanya kuat secara filosofis dan budaya, tapi juga bisa diberdayakan secara ekonomi. Dari panggung hingga souvenir, semuanya berbasis bambu. Ini potensi luar biasa untuk ekonomi berbasis kearifan lokal,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan tiga fokus utama program Kementerian PPPA: data yang terintegrasi, ruang bersama Indonesia (balai, sekolah rakyat, komunitas), dan penguatan care economy—yakni ekonomi berbasis layanan keperawatan dan kerja domestik.
“Banyak perempuan terpaksa berhenti bekerja setelah menikah. Kita ingin mereka tetap bisa produktif melalui pelatihan dan sertifikasi kerja domestik yang layak, termasuk program caregiver ke luar negeri dengan gaji dan hak yang lebih baik,” jelasnya.
Dalam waktu dekat, katanya, Kementerian PPPA akan menguji coba pengiriman 200 tenaga caregiver bersertifikat ke Singapura sebagai langkah awal program kerja sama antarnegara. Ia juga mengajak universitas dan masyarakat Jember untuk terlibat dalam pelatihan dan penyaluran tenaga kerja perempuan secara profesional.
Menutup sambutannya, Veronica mengajak seluruh elemen—pemerintah pusat, daerah, komunitas, PKK, dan akademisi—untuk bergandeng tangan menghadirkan Indonesia yang lebih layak anak dan lebih adil gender.
“Kita adalah kabinet merah putih, yang mengedepankan kolaborasi. Dengan kolaborasi, kita bisa menciptakan generasi emas 2045 yang sehat, cerdas, dan berdaya,” pungkasnya.
Festival Egrang ke-13 bukan hanya perayaan budaya lokal, tapi juga momentum strategis untuk membangun sinergi nasional demi masa depan yang lebih inklusif dan berkeadilan.
.gif)

