Acara dimulai sekitar pukul 07.00 WIB dengan prosesi adat Jawa seperti siraman, sungkeman, dan panggih. Kedua mempelai tampil anggun dan gagah mengenakan busana adat khas keraton Jawa berwarna cokelat keemasan, lengkap dengan aksesoris tradisional seperti blangkon dan siger.
Prosesi panggih, yang merupakan puncak dari adat Jawa, menjadi momen sakral saat Megawati dan Dio secara simbolis dipertemukan sebagai suami istri. Keduanya melakukan ritual wijikan dan kacar-kucur, yang bermakna saling menerima dan membangun rumah tangga secara bersama-sama.
Setelah prosesi adat selesai, acara dilanjutkan dengan resepsi modern pada siang hari, yang dihadiri oleh keluarga besar, kerabat, sahabat, serta sejumlah tokoh dari dunia olahraga, termasuk rekan-rekan Megawati dari tim bola voli nasional dan klub Red Sparks Korea Selatan.
Sahabat karib Megawati, Giovanna Milana, yang telah hadir di Indonesia sejak 3 Juli lalu, turut menyemarakkan acara dan tampak terharu menyaksikan sahabatnya melangkah ke jenjang baru dalam hidupnya.
Suasana resepsi sangat meriah namun tetap hangat, dengan dekorasi tradisional yang dipadukan unsur modern. Alunan gamelan Jawa mengiringi prosesi adat, sementara hiburan modern menyemarakkan sesi malam hari yang lebih santai.
Pernikahan Megawati dan Dio menjadi sorotan tidak hanya karena status Megawati sebagai atlet nasional, tetapi juga karena pelaksanaan adat yang begitu kental di tengah modernitas, menjadi teladan pelestarian budaya nusantara.
Selamat menempuh hidup baru untuk Megawati Hangestri Pertiwi dan Dio Novandra Wibawa. Semoga cinta dan kebahagiaan senantiasa mengiringi langkah kalian berdua.